Jumat, 28 Oktober 2016

[Bayang dalam Kopi]

Engkau api membara
Engkau malam tak berbintang 
Engkau hujan yang lebat 
Engkau ketakutanku.

Lelaki itu berwajah sendu, matanya membunuh gelap,
senyumnya menggilas paru.
Engkau hadir dan menginjak bayang si anak hawa,
basa-basi bertanya " Kenapa purnama belum pergi?".
"Maaf bukannya mengganggu" dengan lantang katanya,
sambil membelai pundak yang tinggal roboh.
Engkau menyapa begitu lembut dengan sebatang rokok bergelantungan di bibir.

Malam makin larut.
Butir-butir di langit sudah samar,
Rembulan penuh pun mulai tumpah.
Engkau enyah sebelum cinta terluntahkan.
Esok kan ku lupakan kisah malam ini pada matari.
Bergegas ku hamparkan di jejak-jejak kaki kita.
Biar rindu yang pungut kembali kisah yang berserakan itu.
Pagi-pagi selalu ku siapkan kopi panas di meja teras rumahku,
sengaja ku tunggukan angin untuk menghangatkannya.
Kau tahu ? Ku aduk semua rasa yang selama ini terpenjara di balik tirai air mata, untukmu yang akan datang.

Sayang,
Sudah ku lupa musim berganti,
hujan terus turun di musim panas.. 


Terimakasih puisinya Elda Haltita
[28 Oktober 2016]

Sabtu, 10 September 2016

Secukupnya.. sekadarnya..

Mungkin terlalu banyak menghabisi diri dalam gelap.. 
Tapi percaya.. masih selalu ada cahaya..
Kamu tersenyum melihat cahaya..
Aku menutup mata..
Bukan karena tidak bisa melihat kebaikan itu..
Tapi bukankah kamu penuntunnya ^^..
Karena hanya satu..
Satukanlah kami dalam kebaikan..
Aku ikhlaskanmu~

Rabu, 07 September 2016

Bu..

Lagi-lagi mengecewakan.
Bisa apa aku :'(
Kumaki diriku berulang kali hari ini..
Apa kepergian adalah hal yg pantas?
.
.
.
.
Kukalahkan egoku dalam logikamu
Kukepakkan sayapku dalam kurunmu
Kusalahkan inginku dalam pandangmu
Kukapokkan aku dalam maaf setiamu

Ibu :')

Rabu, 17 Agustus 2016

Tentang bunga yg seharusnya layu atau mekar didepanmu~

Bercermin pada kenyataan..
Aku memang kalah telak..
Bukan padamu.. tapi pada sikap yg slalu kugadaikan untuk mengahadapimu..
Kuakui, saat kutau aku bukan menjadi satu-satunya bunga ditamanmu.. aku cenderung layu, mengikis diri, bersembunyi dari matahari hanya untuk merampas segenap perhatianmu.. meski hanya sebentar..
Sampai lupa.. aku seharusnya bisa jadi lebih indah dari bunga lainnya , agar kau menatapku.. bukan untuk sebentar.. sejenak.. atau boleh kuminta selamanya? 😏
Dibawah langit biru.. aku akan segera membanggakanmu.. bersabarlah.. sebentar lagi.. 😄


Kamis, 21 Juli 2016

Perjalanan

Kufikir perjalanan kali ini adalah tentang melupakan.. nyatanya aku kembali terhenyak pada siluet ingatan tentangmu..
Kufikir perjalanan kali ini adalah tentang meninggalkan.. nyatanya aku lagi-lagi kembali tertaut pada rekam kenanganmu..
Yg mengeja kembali kata rindu..
Telah banyak kata-kata kupersiapkan untuk berjaga-jaga kali-kali kau memintaku untuk tetap tinggal.. tp kenapa jauh semakin membunuuuh kata-kata itu..
Memakannya dengan lahap.. hingga aku kembali menjadi lapar tentangmu..
Tapi..
Perjalanan ini belum selesai..
Hingga akhirnya aku memahami perjalanan kali ini, adalah belajar bagaimana menjadi kenyang tanpamu..