Engkau api membara
Engkau malam tak berbintang
Engkau hujan yang lebat
Engkau ketakutanku.
Engkau malam tak berbintang
Engkau hujan yang lebat
Engkau ketakutanku.
Lelaki itu berwajah sendu, matanya membunuh gelap,
senyumnya menggilas paru.
Engkau hadir dan menginjak bayang si anak hawa,
basa-basi bertanya " Kenapa purnama belum pergi?".
"Maaf bukannya mengganggu" dengan lantang katanya,
sambil membelai pundak yang tinggal roboh.
Engkau menyapa begitu lembut dengan sebatang rokok bergelantungan di bibir.
Malam makin larut.
Butir-butir di langit sudah samar,
Rembulan penuh pun mulai tumpah.
Engkau enyah sebelum cinta terluntahkan.
Esok kan ku lupakan kisah malam ini pada matari.
Bergegas ku hamparkan di jejak-jejak kaki kita.
Biar rindu yang pungut kembali kisah yang berserakan itu.
Pagi-pagi selalu ku siapkan kopi panas di meja teras rumahku,
sengaja ku tunggukan angin untuk menghangatkannya.
Kau tahu ? Ku aduk semua rasa yang selama ini terpenjara di balik tirai air mata, untukmu yang akan datang.
Butir-butir di langit sudah samar,
Rembulan penuh pun mulai tumpah.
Engkau enyah sebelum cinta terluntahkan.
Esok kan ku lupakan kisah malam ini pada matari.
Bergegas ku hamparkan di jejak-jejak kaki kita.
Biar rindu yang pungut kembali kisah yang berserakan itu.
Pagi-pagi selalu ku siapkan kopi panas di meja teras rumahku,
sengaja ku tunggukan angin untuk menghangatkannya.
Kau tahu ? Ku aduk semua rasa yang selama ini terpenjara di balik tirai air mata, untukmu yang akan datang.
Sayang,
Sudah ku lupa musim berganti,
hujan terus turun di musim panas..
Sudah ku lupa musim berganti,
hujan terus turun di musim panas..
Terimakasih puisinya Elda Haltita
[28 Oktober 2016]




