Rabu, 15 Februari 2017

Maukah kau mencoba menjadi Angin?

Kamu pernah menghitung berapa tetes air yang ada di lautan? Mengapa ia menjadi asin padahal sumbernya semuanya sama berasal dari sungai yang mengalir dari daratan?

Kau tahu bagaimana rasanya hujan diatas lautan? Air beradu air. Membuat riak-riak yang mengerikan. Kau tahu bagaimana rasanya menjadi angin, menghempaskan setiap tetes air. Seperti menghempaskan perasaan-perasaannya sendiri.

Aku pernah menjadi angin. Mengalir dari ketinggian. Menghempaskan tubuhnya sendiri. Tidak tahu hendak kemana. Tidak tahu kapan berhentinya. Tidak tahu kapan akan tiada. Bertemu hujan, mengempaskannya. Bertemu daun gugur, menerbangkannya. Bertemu pepohonan, membuatnya gemerisik.

Aku memenuhi seluruh hidupmu, tapi tidak pernah kau sadari keberadaannya. Aku berusaha menyejukkanmu, kamu hanya memejamkan mata. Tidak pernah tahu keberadaanku.

Kau tahu bagaimana rasanya menjadi angin? Mungkin seperti aku saat ini, terus menerus berada di sekitarmu, tapi jarang tidak pernah kamu pedulikan. Menghempaskan dirinya sendiri agar kamu merasa nyaman dengan udara di sekitarmu. Menjadikan semilir angin menyejukkanmu. Membuatmu nyaman menjalani hari-harimu.

Jika kau tahu dimana aku berada. Aku selalu ada di dekatmu, baik dalam jarak maupun dalam doa. Maukah kau mencoba menjadi angin? Dan bersama-sama kita bisa menghempaskan tetes hujan, membuatnya menari-nari indah sebelum jatuh ke bumi. Menghempaskan dedaunan dan membuatnya bergetar, membuat irama yang merdu, seperti pada rumpun ilalang atau dedaunan pohon. Meniup lautan dan membuatnya menjadi gelombang yang mengantarkan bahtera ke tujuannya. Mengisi atmosfer dan menahan sayap burung-burung agar bisa terbang.
Maukah kau mencoba menjadi angin?
Bandung, 11 Februari 2014 | ©kurniawangunadi

0 komentar: